- Back to Home »
- Education »
- Membaca Al-Qura'an Membuat Kita Cerdas
Posted by : Unknown
Sabtu, 28 September 2013
Ternyata Al-Qur’an dapat merangsang tingkat inteligensia (IQ) anak, yakni ketika bacaan ayat-ayat Kitab Suci itu diperdengarkan dekat mereka. Dr. Nurhayati dari Malaysia mengemukakan hasil penelitiannya tentang pengaruh bacaan Al-Qur’an dapat meningkatkan IQ bayi yang baru lahir dalam sebuah Seminar Konseling dan Psikoterapi Islam sekitar tujuh tahun yang lalu.
Dikatakannya, bayi yang berusia 48 jam saja akan langsung
memperlihatkan reaksi wajah ceria dan sikap yang lebih tenang. Penulis
pun mempunyai seorang keponakan yang lahir tahun 2002. Entah ada kaitan
dengan dengan argumentasi di atas, yang jelas sebelum umurnya satu
tahun, ia sering baru bisa tidur bila di sampingnya diperdengarkan suara
orang mengaji melalui tape recorder.
Seperti diketahui, dengan mendengarkan musik, detak jantung bayi
menjadi teratur. Malah untuk orang dewasa akan menimbulkan rasa cinta.
Hanya arahnya tidak tentu. Sedangkan Al-Qur’an, selain itu, sekaligus
menimbulkan rasa cinta kepada Tuhan Maha Pencipta. Jadi, bila bacaan
Al-Qur’an diperdengarkan kepada bayi, akan merupakan bekal bagi masa
depannya sebagai Muslim, dunia maupun akhirat.
Dalam musik terkandung komposisi not balok secara kompleks dan
harmonis, yang secara psikologis merupakan jembatan otak kiri dan otak
kanan, yang output-nya berupa peningkatan daya tangkap/konsentrasi.
Ternyata Al-Qur’an pun demikian, malah lebih baik. Ketika diperdengarkan
dengan tepat dan benar, dalam artian sesuai tajwid dan makhraj,
Al-Qur’an mampu merangsang syaraf-syaraf otak pada anak.
Ingat, neoron pada otak bayi yang baru lahir itu umumnya bak
“disket kosong siap pakai”. Berarti, siap dianyam menjadi jalinan akal
melalui masukan berbagai fenomena dari kehidupannya. Pada gilirannya
terciptalah sirkuit dengan wawasan tertentu. Istilah populernya apalagi
kalau bukan “intelektual”. Sedangkan anyaman tersebut akan sernakin
mudah terbentuk pada waktu dini. Neoron yang telah teranyam di antaranya
untuk mengatur faktor yang menunjang kehidupan dasar seperti detak
jantung dan bernapas. Sementara neoron lain menanti untuk dianyam,
sehingga bisa membantu anak menerjemahkan dan bereaksi terhadap dunia
luar.
Selama dua tahun pertama anak mengalami ledakan terbesar dalam hal
perkembangan otak dan hubungan antar sel (koneksi). Lalu setahun
kemudian otak mempunyai lebih dari 300 trilyun koneksi, suatu kondisi
yang susah terjadi pada usia dewasa, terlebih usia lanjut. Makanya para
pakar perkembangan anak menyebut usia balita sebagai golden age bagi
perkembangan inteligensia anak. Memang bila orangtua tidak memanfaatkan
kesempatan ini dengan jalan membantu dari belakang, maka tetap tidak
akan mempengaruhi kemampuan otak anak dalam menganyam neoron, karena
kesempatan untuk memperkuat koneksi otak terbuka luas selama masa
anak-anak. Tetapi tentu akan semakin baik bila orangtua pun ikut aktif
membantu.
Otak telah tumbuh jauh sebelum bayi lahir. la telah mulai bekerja
yang hasilnya merupakan benih penginderaan berdasarkan prioritas.
Umumnya pendengaran lebih dulu. Jadi, selama masa itu penting sekali
untuk selalu menghadirkan lingkungan kondusif dan baik bagi perkembangan
otaknya. Hilangnya lingkungan ini hanya akan membuat otak menderita dan
menganggur yang gilirannya mempengaruhi tingkat kecerdasannya.
Dalam kaitan upaya meningkatkan pribadi Muslim, seyogyanya bayi
sudah diperdengarkan bacaan Al-Qur’an sejak dalam rahim. Jadi, bila ada
anjuran kepada ibu-ibu hamil untuk rajin membaca Al-Qur’an menjelang
bersalin, itu ada dasar ilmiahnya juga. Makin baik dan benar bacaan itu,
termasuk lagunya, makin baik hasilnya. Tujuannya tentu saja bukan
mengajak bayi memahami substansi atau makna kandungan ayat-ayat
Al-Qur’an, tetapi memperkuat daya tangkap/konsentrasi otak bayi.
Sehingga akan semakin mudahlah ia menghafal ayat-ayat Al-Qur’an beserta
terjemahannya ketika sudah memasuki masa belajar.
2. Riyadh (vioa-Islam) – Hasil Penelitian Ilmiah di Universitas
al-Imam Muhammad bin Sa’ud al-Islamiyyah membuktikan ketika kadar
hafalan al-Qur’an siswa meningkat maka akan meningkat pula kesehatan
jiwanya.
Penelitian yang dilakukan oleh Prof. DR. Shalih bin Ibrahim,
professor ilmu Kesehatan Jiwa, terdiri dari dua kelompok. Kelompok
pertama, para mahasiswa-mahasiswi Universitas Malik abdul Aziz di
Jeddah. Jumlah mereka 170 orang. Kelompok kedua, Para
mahasiswa-mahasiswi Ma’had al-Imam asy-Syatibi li ad-Dirasah
al-Qur’aniyyah, filial Universitas al-Khairiyah Litahfidzil Qur’an al
Karim di Jeddah. Jumlah mereka sama, yaitu 170 orang.
“sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” HR. Bukhari
“sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” HR. Bukhari
Para mahasiswa yang memiliki hafalan yang bagus memiliki kesehatan
jiwa yang jauh lebih tinggi. Ada 70 penelitian umum dan Islam,
seluruhnya menguatkan pentingnya dien untuk meningkatkan kesehatan dan
ketentraman jiwa. Sebuah penelitian di di Saudi juga menunjukkan peran
al-Qur’an dalam meningkatkan kecerdasan bagi anak-anak sekolah dasar dan
Pengaruh positif hafalan al Qur’an bagi kesuksesan akademik para
mahasiswa.
Penelitian ini sebagai bukti nyata adanya hubungan antara beragama
dengan berbagai fenomena hidup. Di antaranya yang paling urgen adalah
menghafal al-Qur’an. Siswa yang memiliki hafalan al-Qur’an memiliki
kesehatan jiwa yang lebih baik dibandingkan dengan siswa-siswa yang
tidak beragama dengan baik, atau tidak menghafalkan al-Qur’an sedikitpun
atau hafalan mereka hanya surat-surat dan ayat-ayat pendek. Penelitian
tersebut berpesan agar menghafalkan al-Qur’an dengan sempurna bagi para
siswa-siswi di tingkat universitas, untuk menghasilkan nilai positiv
bagi kehidupan dan akademik mereka. Mendorong mereka melaksanakan
perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dan hal itu merupakan sarana
terpenting untuk memperoleh kesehatan jiwa yang tinggi.
Penelitian itu juga menasihatkan kepada para guru agar meningkatkan
standar hafalan bagi murid-murid mereka, walau dijadikan sebagai
kegiatan ekstra kurikuler, karena memiliki manfaat dan pengaruh yang
bagus untuk kesuksesan belajar dan kesehatan jiwa mereka
3. Dr. Ahmad Al-Qadhiy (United States of America)
Penelitian dan pengukuran ini dilakukan terhadap sejumlah kelompok manusia:
1. Muslimin yang bisa berbahasa Arab.
2. Muslimin yang tidak bisa berbahasa Arab
3. Non-Islam yang tidak bisa berbahasa Arab.
Pada semua kelompok responden tersebut dibacakan sepotong ayat Al-Qur’an dalam bahasa Arab dan kemudian dibacakan terjemahnya dalam bahasa Inggris.
3. Dr. Ahmad Al-Qadhiy (United States of America)
Penelitian dan pengukuran ini dilakukan terhadap sejumlah kelompok manusia:
1. Muslimin yang bisa berbahasa Arab.
2. Muslimin yang tidak bisa berbahasa Arab
3. Non-Islam yang tidak bisa berbahasa Arab.
Pada semua kelompok responden tersebut dibacakan sepotong ayat Al-Qur’an dalam bahasa Arab dan kemudian dibacakan terjemahnya dalam bahasa Inggris.
Dan pada setiap kelompok ini diperoleh data adanya dampak yang bisa
ditunjukkan tentang Al-Qur’an, yaitu 97% percobaan berhasil menemukan
perubahan dampak tersebut. Dan dampak ini terlihat pada perubahan
fisiologis yang ditunjukkan oleh menurunnya kadar tekanan pada syaraf
secara sprontanitas. Dan penjelasan hasil penelitian ini aku
presentasikan pada sebuah muktamar tahunan ke-17 di Univ. Kedokteran
Islam di Amerika bagian utara yang diadakan di kota Sant Louis Wilayah
Mizore, Agustus 1984.
Dan benar-benar terlihat pada penelitian permulaan bahwa dampak
Al-Qur’an yang kentara pada penurunan tekanan syaraf mungkin bisa
dikorelasikan kepada para pekerja: Pekerja pertama adalah suara beberapa
ayat Al-Qur’an dalam Bahasa Arab. Hal ini bila pendengarnya adalah
orang yang bisa memahami Bahasa Arab atau tidak memahaminya, dan juga
kepada siapapun (random). Adapun pekerja kedua adalah makna sepenggal
Ayat Al-Qur’an yang sudah dibacakan sebelumnya, sampai walaupun
penggalan singkat makna ayat tersebut tanpa sebelumnya mendengarkan
bacaan Al-Qur’an dalam Bahasa Arabnya.
Adapun Tahapan kedua adalah penelitian kami pada pengulangan kata
“Akbar” untuk membandingkan apakah terdapat dampak Al-Qur’an terhadap
perubahan-perubahan fisiologis akibat bacaan Al-Qur’an, dan bukan karena
hal-hal lain selain Al-Qur’an semisal suara atau lirik bacaan Al-Qur’an
atau karena pengetahun responden bahwasannya yang diperdengarkan
kepadanya adalah bagian dari kitab suci atau pun yang lainnya.
Dan tujuan penelitian komparasional ini adalah untuk membuktikan asumsi yang menyatakan bahwa “Kata-kata dalam Al-Qur’an itu sendiri memiliki pengaruh fisiologis hanya bila didengar oleh orang yang memahami Al-Qur’an . Dan penelitian ini semakin menambah jelas dan rincinya hasil penelitian tersebut.
Dan tujuan penelitian komparasional ini adalah untuk membuktikan asumsi yang menyatakan bahwa “Kata-kata dalam Al-Qur’an itu sendiri memiliki pengaruh fisiologis hanya bila didengar oleh orang yang memahami Al-Qur’an . Dan penelitian ini semakin menambah jelas dan rincinya hasil penelitian tersebut.
Peralatan
Peralatan yang digunakan adalah perangkat studi dan evaluasi terhadap tekanan syaraf yang ditambah dengan komputer jenis Medax 2002 (Medical Data Exuizin) yang ditemukan dan dikembangkan oleh Pusat Studi Kesehatan Univ. Boston dan Perusahaan Dafikon di Boston. Perangkat ini mengevaluasi respon-respon perbuatan yang menunjukkan adanya ketegangan melalui salah satu dari dua hal: (i) Perubahan gerak nafas secara langsung melalui komputer, dan (ii) Pengawasan melalui alat evaluasi perubahan-perubahan fisiologis pada tubuh. Perangkat ini sangat lengkap dan menambah semakin menguatkan hasil validitas hasil evaluasi.
Peralatan yang digunakan adalah perangkat studi dan evaluasi terhadap tekanan syaraf yang ditambah dengan komputer jenis Medax 2002 (Medical Data Exuizin) yang ditemukan dan dikembangkan oleh Pusat Studi Kesehatan Univ. Boston dan Perusahaan Dafikon di Boston. Perangkat ini mengevaluasi respon-respon perbuatan yang menunjukkan adanya ketegangan melalui salah satu dari dua hal: (i) Perubahan gerak nafas secara langsung melalui komputer, dan (ii) Pengawasan melalui alat evaluasi perubahan-perubahan fisiologis pada tubuh. Perangkat ini sangat lengkap dan menambah semakin menguatkan hasil validitas hasil evaluasi.
Subsekuen:
1. Program komputer yang mengandung pengaturan pernafasan dan monitoring perubahan fisiologis dan printer.
2. Komputer Apple 2, yaitu dengan dua floppy disk, layar monitor dan printer.
3. Perangkat monitoring elektronik yang terdiri atas 4 chanel: 2 canel untuk mengevaluasi elektrisitas listrik dalam otot yang diterjemahkan ke dalam respon-respon gerak syaraf otot; satu chanel untuk memonitor arus balik listrik yang ke kulit; dan satu chanel untuk memonitor besarnya peredaran darah dalam kulit dan banyaknya detak jantung dan suhu badan.
1. Program komputer yang mengandung pengaturan pernafasan dan monitoring perubahan fisiologis dan printer.
2. Komputer Apple 2, yaitu dengan dua floppy disk, layar monitor dan printer.
3. Perangkat monitoring elektronik yang terdiri atas 4 chanel: 2 canel untuk mengevaluasi elektrisitas listrik dalam otot yang diterjemahkan ke dalam respon-respon gerak syaraf otot; satu chanel untuk memonitor arus balik listrik yang ke kulit; dan satu chanel untuk memonitor besarnya peredaran darah dalam kulit dan banyaknya detak jantung dan suhu badan.
Berdasarkan elektrisitas listrik dalam otot-otot, maka ia semakin
bertambah yang menyebabkan bertambahnya cengkeraman otot. Dan untuk
memonitor perubahan-perubahan ini menggunakan kabel listrik yang
dipasang di salah satu ujung jari tangan. Adapun monitoring volume darah
yang mengalir pada kulit sekaligus memonitor suhu badan, maka hal itu
ditunjukkan dengan melebar atau mengecilnya pori-pori kulit.
Untuk hal ini, menggunakan kabel listrik yang menyambung di sekitar
salah satu jari tangan. Dan tanda perubahan-perubahan volume darah yang
mengalir pada kulit terlihat jelas pada layar monitoryang menunjukkan
adanya penambahan cepat pada jantung. Dan bersamaan dengan pertambahan
ketegangan, pori-pori mengecil, maka mengecil pulalah darah yag mengalir
pada kulit, dan suhu badan, dan detak jantung.
Metode dan Keadaan yang digunakan:
Percobaan dilakukan selama 210 kali kepada 5 responden: 3 laki-laki dan 2 perempuan yang berusia antara 40 tahun dan 17 tahun, dan usia pertengahan 22 tahun. Dan setiap responden tersebut adalah non-muslim dan tidak memahami bahasa Arab. Dan percobaan ini sudah dilakukan selama 42 kesempatan, dimana setiap kesempatannya selama 5 kali, sehingga jumlah keseluruhannya 210 percobaan. Dan dibacakan kepada responden kalimat Al-Qur’an dalam bahasa Arab selama 85 kali, dan 85 kali juga berupa kalimat berbahasa Arab bukan Al-Qur’an. Dan sungguh adanya kejutan/shock pada bacaan-bacaan ini: Bacaan berbahasa Arab (bukan Al-Qur’an) disejajarkan dengan bacaan Al-Qur’an dalam lirik membacanya, melafadzkannya di depan telingga, dan responden tidak mendengar satu ayat Al-Qur’an selama 40 uji-coba. Dan selama diam tersebut, responden ditempatkan dengan posisi duduk santai dan terpejam. Dan posisi seperti ini pulalah yang diterapkan terhadap 170 uji-coba bacaan berbahasa Arab bukan Al-Qur’an.
Percobaan dilakukan selama 210 kali kepada 5 responden: 3 laki-laki dan 2 perempuan yang berusia antara 40 tahun dan 17 tahun, dan usia pertengahan 22 tahun. Dan setiap responden tersebut adalah non-muslim dan tidak memahami bahasa Arab. Dan percobaan ini sudah dilakukan selama 42 kesempatan, dimana setiap kesempatannya selama 5 kali, sehingga jumlah keseluruhannya 210 percobaan. Dan dibacakan kepada responden kalimat Al-Qur’an dalam bahasa Arab selama 85 kali, dan 85 kali juga berupa kalimat berbahasa Arab bukan Al-Qur’an. Dan sungguh adanya kejutan/shock pada bacaan-bacaan ini: Bacaan berbahasa Arab (bukan Al-Qur’an) disejajarkan dengan bacaan Al-Qur’an dalam lirik membacanya, melafadzkannya di depan telingga, dan responden tidak mendengar satu ayat Al-Qur’an selama 40 uji-coba. Dan selama diam tersebut, responden ditempatkan dengan posisi duduk santai dan terpejam. Dan posisi seperti ini pulalah yang diterapkan terhadap 170 uji-coba bacaan berbahasa Arab bukan Al-Qur’an.
Dan ujicoba menggunakan bacaan berbahasa Arab bukan Al-Qur’an
seperti obat yang tidak manjur dalam bentuk mirip seperti Al-Qur’an,
padahal mereka tidak bisa membedakan mana yang bacaan Al-Qur’an dan mana
yang bacaan berbahasa Arab bukan Al-Qur’an. Dan tujuannya adalah utuk
mengetahui apakah bacaan Al-Qur’an bisa berdampak fisiologis kepada
orang yang tidak bisa memahami maknanya. Apabila dampak ini ada
(terlihat), maka berarti benar terbukti dan dampak tidak ada pada bacaan
berbahasa Arab yang dibaca murottal (seperti bacaan Imam Shalat) pada
telinga responden. Adapun percobaan yang belum diperdengarkan satu ayat
Al-Qur’an kepada responden, maka tujuannya adalah untuk mengetahui
dampak fisiologis sebagai akibat dari letak/posisi tubuh yang rileks
(dengan duduk santai dan mata terpejam).
Dan sungguh telah kelihatan dengan sangat jelas sejak percobaan
pertama bahwasannya posisi duduk dan diam serta tidak mendegarkan satu
ayat pun, maka ia tidak mengalami perubahan ketegangan apapun. Oleh
karena itu, percobaan diringkas pada tahapan terakhir pada penelitian
perbandingan terhadap pengaruh bacaan Al-Qur’an dan bacaan bahasa Arab
yang dibaca murottal seperti Al-Qur’an terhadap tubuh.
Dan metode pengujiannya adalah dengan melakukan selang-seling bacaan: dibacakan satu bacaan Al-Qur’an, kemudian bacaan vahasa Arab, kemudian Al-Qur’an dan seterusnya atau sebaliknya secara terus menerus.
Dan metode pengujiannya adalah dengan melakukan selang-seling bacaan: dibacakan satu bacaan Al-Qur’an, kemudian bacaan vahasa Arab, kemudian Al-Qur’an dan seterusnya atau sebaliknya secara terus menerus.
Dan para responden tahu bahwa bacaan yang didengarnya adalah dua
macam: Al-Qur’an dan bukan Al-Qur’an, akan tetapi mereka tidak mampu
membedakan antara keduanya, mana yang Al-Qur’an dan mana yang bukan.
Adapun metode monitoring pada setiap percobaan penelitian ini, maka
hanya mencukupkan dengan satu chanel yaitu chanel monitoring
elektrisitas listrik pada otot-otot, yaitu dengan perangkat Midax
sebagaimana kami sebutkan di atas. Alat ini membantu menyampaikan
listrik yang ada di dahi.
Dan petunjuk yang sudah dimonitor dan di catat selama percobaan ini
mengadung energi listrik skala pertengahan pada otot dibandingkan
dengan kadar fluktuasi listrik pada waktu selama percobaan. Dan
sepanjang otot untuk mengetahui dan membandingkan persentase energi
listrik pada akhir setiap percobaan jika dibandingkan keadaan pada awal
percobaan. Dan semua monitoring sudah dideteksi dan dicatat di dalam
komputer. Dan sebab kami mengutamakan metode ini untuk memonitor adalah
karena perangkat ini bisa meng-output angka-angka secara rinci yang
cocok untuk studi banding, evaluasi dan akuntabel..
Pada satu ayat percobaan, dan satu kelompok percobaan perbandingan
lainnya mengandung makna adanya hasil yang positif untuk satu jenis cara
yang paling kecil sampai sekecil-kecilnya energi listrik bagi otot.
Sebab hal ini merupakan indikator bagusnya kadar fluktuasi ketegangan
syaraf, dibandingkan dengan berbagai jenis cara yang digunakan responden
tersebut ketika duduk.
Hasil Penelitian
Ada hasil positif 65% percobaan bacaan Al-Qur’an. Dan hal ini menunjukkan bahwa energi listrik yang ada pada otot lebih banyak turun pada percobaan ini. Hal ini ditunjukkan dengan dampak ketegangan syaraf yang terbaca pada monitor, dimana ada dampak hanya 33 % pada responden yang diberi bacaan selain Al-Qur’an.
Ada hasil positif 65% percobaan bacaan Al-Qur’an. Dan hal ini menunjukkan bahwa energi listrik yang ada pada otot lebih banyak turun pada percobaan ini. Hal ini ditunjukkan dengan dampak ketegangan syaraf yang terbaca pada monitor, dimana ada dampak hanya 33 % pada responden yang diberi bacaan selain Al-Qur’an.
Pada sejumlah responden, mungkin akan terjadi hasil yang terulang
sama, seperti hasil pengujian terhadap mendengar bacaan Al-Qur’an. Oleh
karena itu, dilakukan ujicoba dengan diacak dalam memperdengarkannya
(antara Al-Qur’an dan bacaan Arab) sehingga diperoleh data atau
kesimpulan yang valid.
Pembahasan Hasil Penelitian dan Kesimpulan
Sungguh sudah terlihat jelas hasil-hasil awal penelitian tentang dampak Al-Qur’an pada penelitian terdahulu bahwasanya Al-Qur`an memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap syaraf. dan mungkin bisa dicatat pengaruh ini sebagai satu hal yang terpisah, sebagaimana pengaruh inipun terlihat pada perubahan energi listrik pada otot-otot pada organ tubuh. dan perubah-perubahan yang terjadi pada kulit karena energi listrik, dan perubahan pada peredaran darah, perubahan detak jantung, voleme darah yang mengalir pada kulit, dan suhu badan.
Sungguh sudah terlihat jelas hasil-hasil awal penelitian tentang dampak Al-Qur’an pada penelitian terdahulu bahwasanya Al-Qur`an memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap syaraf. dan mungkin bisa dicatat pengaruh ini sebagai satu hal yang terpisah, sebagaimana pengaruh inipun terlihat pada perubahan energi listrik pada otot-otot pada organ tubuh. dan perubah-perubahan yang terjadi pada kulit karena energi listrik, dan perubahan pada peredaran darah, perubahan detak jantung, voleme darah yang mengalir pada kulit, dan suhu badan.
Dan semua perubahan ini menunjukan bahwasanya ada perubahan pada
organ-organ syaraf otak secara langsung dan sekaligus mempengaruhi organ
tubuh lainnya. Jadi, ditemukan sejumlah kemungkinan yang tak berujung (
tidak diketahui sebab dan musababnya) terhadap perubahan fisiologis
yang mungkin disebabkan oleh bacaan Al-Qur`an yang didengarkannya. Oleh
karena itu sudah diketahui oleh umum bahwasanya ketegangan-ketegangan
saraf akan berpengaruh kepada dis-fungsi organ tubuh yang dimungkinkan
terjadi karena produksi zat kortisol atau zat lainnya ketika merespon
gerakan antara saraf otak dan otot. Oleh karena itu pada keadaan ini
pengaruh Al-Qur`an terhadap ketegangan saraf akan menyebabkan seluruh
badannya akan segar kembali, dimana dengan bagusnya stamina tubuh ini
akan menghalau berbagai penyakit atau mengobatinya.
Dan hal ini sesuai dengan keadaan penyakit tumor otak atau kanker
otak. Juga, hasil uji coba penelitian ini menunjukan bahwa
kalimat-kalimat Al-Qur`an itu sendiri memeliki pengaruh fisiologis
terhadap ketegangan organ tubuh secara langsung, apalagi apabila
disertai dengan mengetahui maknanya. Dan perlu untuk disebutkan disini
bahwasanya hasil-hasil penelitian yang disebutkan diatas adalah masih
terbatas dan dengan responden yang juga terbatas.

Semoga Bermanfaat,,,,
BalasHapus